Sentuhan Spiritualitas di Balik Jeruji, Warga Binaan Buddha di Lapas Narkotika Rumbai Terima Donasi Buku Keagamaan

PEKANBARU – Di tengah upaya pembinaan yang terus dilakukan kepada warga binaan, suasana penuh ketenangan dan kekhusyukan tampak menyelimuti ruang ibadah Buddha di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Rumbai. Melalui kegiatan ibadah keagamaan yang rutin dilaksanakan, warga binaan tidak hanya mendapatkan pembinaan spiritual, tetapi juga menerima bantuan buku-buku keagamaan sebagai sarana memperdalam pemahaman ajaran Buddha selama menjalani masa pidana.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian yang terus dikembangkan oleh Lapas Narkotika Rumbai guna membentuk karakter warga binaan yang lebih baik. Pembinaan berbasis keagamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun kesadaran diri, menanamkan nilai moral, serta membangkitkan semangat perubahan bagi para warga binaan.

Ibadah agama Buddha kali ini dipimpin oleh Penyuluh Agama Buddha Kota Pekanbaru, Sri Ariyatun, S.Pd. Dalam ceramah yang disampaikannya, ia mengajak seluruh warga binaan untuk menjadikan masa pembinaan sebagai momentum introspeksi diri dan memperkuat komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Menurut Sri Ariyatun, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, masa menjalani pembinaan di dalam lapas hendaknya tidak dipandang sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.

“Melalui ajaran Buddha, kita diajarkan untuk selalu menumbuhkan kesadaran diri, mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dengan demikian, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih bijaksana dan penuh tanggung jawab,” ujarnya di hadapan warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut.
Suasana ibadah berlangsung dengan penuh ketertiban.

Para warga binaan tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari doa bersama hingga mendengarkan ceramah keagamaan. Bagi sebagian warga binaan, kegiatan seperti ini menjadi sumber kekuatan batin yang membantu mereka menjalani masa pembinaan dengan lebih optimistis.
Tidak hanya mendapatkan pembinaan spiritual, warga binaan juga menerima bantuan buku-buku keagamaan Buddha yang merupakan donasi dari Yayasan Ehipassiko. Penyerahan buku tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan nyata dari masyarakat dan lembaga keagamaan terhadap proses pembinaan di dalam lapas.

Buku-buku yang diberikan diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus pedoman bagi warga binaan dalam memahami nilai-nilai kehidupan yang diajarkan dalam agama Buddha. Dengan adanya literatur keagamaan yang memadai, warga binaan memiliki kesempatan untuk belajar secara mandiri dan memperdalam pemahaman spiritual mereka selama menjalani masa pidana.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Penyuluh Agama Buddha Provinsi Riau, Juni Ardhi, S.Pd.B., yang turut memberikan motivasi kepada warga binaan. Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa perubahan yang sesungguhnya berasal dari dalam diri masing-masing individu.

Menurutnya, setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda-beda, namun masa depan tetap dapat dibentuk melalui kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat serta keyakinan bahwa kehidupan yang lebih baik selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin berubah.

“Tidak ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri, maka kesempatan untuk bangkit selalu ada,” katanya memberikan motivasi.
Selain memberikan penguatan spiritual, Juni Ardhi juga menyerahkan bantuan buku-buku keagamaan yang berasal dari Yayasan Bodhinanda. Donasi tersebut melengkapi koleksi literatur keagamaan yang tersedia bagi warga binaan dan menjadi bentuk kepedulian terhadap pembinaan mental serta spiritual di lingkungan pemasyarakatan.

Kehadiran para penyuluh agama dan dukungan dari yayasan keagamaan mendapat apresiasi dari Kepala Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai, Reinhards Indra Pitoy. Ia menilai bahwa pembinaan keagamaan merupakan salah satu aspek penting dalam proses pemasyarakatan karena mampu membantu warga binaan membangun kesadaran, memperkuat mental, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat.

Menurut Reinhards, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari aspek kedisiplinan, tetapi juga dari perubahan sikap, pola pikir, dan karakter warga binaan. Karena itu, sinergi antara lapas, penyuluh agama, dan berbagai lembaga sosial maupun keagamaan menjadi faktor penting dalam menciptakan program pembinaan yang efektif dan berkelanjutan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada para penyuluh agama Buddha dan yayasan yang telah memberikan perhatian serta dukungan kepada warga binaan. Bantuan ini memiliki nilai yang sangat besar karena dapat meningkatkan kualitas pembinaan yang kami laksanakan,” ungkap Reinhards.
Ia menambahkan bahwa Lapas Narkotika Rumbai terus berupaya memberikan hak-hak pembinaan kepada seluruh warga binaan tanpa membedakan latar belakang agama. Setiap warga binaan diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing sebagai bagian dari proses pembinaan yang humanis dan berorientasi pada pemulihan diri.

Program pembinaan keagamaan yang konsisten dijalankan selama ini juga sejalan dengan semangat pemasyarakatan modern yang menempatkan warga binaan sebagai individu yang harus dibina dan dipersiapkan agar mampu kembali menjalankan peran positif di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ibadah dan penyerahan buku-buku keagamaan tersebut, diharapkan warga binaan semakin termotivasi untuk mendalami ajaran Buddha, menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, serta membangun karakter yang lebih baik. Bekal spiritual yang kuat diyakini akan menjadi fondasi penting bagi mereka untuk memulai lembaran baru ketika kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, secercah harapan terus tumbuh. Melalui sentuhan pembinaan keagamaan, warga binaan diajak untuk menemukan kembali makna kehidupan, memperbaiki diri, dan menatap masa depan dengan keyakinan bahwa perubahan menuju kebaikan selalu mungkin diwujudkan.(01/Leli)