Cahaya 1.200 Obor Terangi Kota Pusaka, Bupati Afni Hidupkan Kembali Tradisi Malam Muharam di Siak

SIAK – Malam pergantian Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Kabupaten Siak tahun ini terasa berbeda. Setelah sekian lama tidak digelar secara besar-besaran, tradisi pawai obor kembali menyala dan menghadirkan suasana religius yang menghangatkan hati masyarakat. Ribuan warga tumpah ruah memadati kawasan depan untuk menyaksikan kemeriahan pawai obor yang digelar dalam rangka menyambut 1 Muharam 1448 H.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh itu tidak hanya menjadi ajang perayaan Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan tradisi keagamaan yang sarat nilai sejarah, budaya, dan pendidikan bagi generasi muda.

Sejak menjelang Magrib, masyarakat dari berbagai kecamatan mulai berdatangan ke pusat Kota Siak. Anak-anak, pelajar, remaja, hingga orang tua terlihat antusias mengambil posisi terbaik untuk menyaksikan iring-iringan peserta pawai obor yang akan melintasi kawasan bersejarah tersebut.

Ketika malam mulai turun dan lampu-lampu kota menyala, suasana berubah semakin khidmat. Sekitar 1.200 peserta yang membawa obor berkumpul dalam barisan panjang. Cahaya api yang berkedip di tangan para peserta menciptakan pemandangan menakjubkan di depan Istana Siak yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Melayu.

Lantunan salawat yang menggema sepanjang perjalanan menambah nuansa religius. Cahaya obor yang bergerak perlahan di tengah malam menghadirkan suasana yang mengingatkan masyarakat pada kehidupan masa lampau ketika penerangan listrik belum tersedia dan obor menjadi teman setia dalam perjalanan menuju masjid maupun surau.

Bupati Siak, , yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut mengaku bersyukur karena tradisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Siak itu kini dapat kembali dilaksanakan.

Menurutnya, pawai obor bukan sekadar kegiatan seremonial untuk menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga merupakan upaya membangun karakter generasi muda agar lebih dekat dengan nilai-nilai keagamaan.

“Alhamdulillah, pada malam hari ini kita dapat melaksanakan kegiatan perdana dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya kita untuk menghidupkan kembali pawai obor di Kabupaten Siak. InsyaAllah ke depan akan terus kita maksimalkan,” ujar Afni saat memberikan sambutan.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Siak memiliki komitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan keagamaan yang mampu memperkuat akhlak dan spiritual masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurut Afni, perkembangan zaman yang begitu cepat harus diimbangi dengan pembinaan moral yang kuat. Karena itu, anak-anak perlu dibiasakan sejak dini untuk mencintai masjid, surau, serta berbagai aktivitas yang dapat memperkuat keimanan mereka.

Ia mengajak seluruh orang tua dan guru agar terus memberikan teladan dan dorongan kepada anak-anak untuk aktif dalam kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta bersalawat.

“Kalau anak-anak dekat dengan masjid dan surau, maka mereka akan tumbuh dengan nilai-nilai yang baik. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, orang tua, maupun para guru,” katanya.

Lebih jauh, Afni menjelaskan bahwa tradisi pawai obor memiliki makna historis yang sangat kuat. Pada masa lalu, masyarakat menggunakan obor sebagai alat penerangan ketika berjalan menuju tempat ibadah pada malam hari.

Karena itu, menurutnya, menghidupkan kembali tradisi tersebut bukan hanya mempertahankan budaya lokal, tetapi juga mengenalkan sejarah kehidupan masyarakat kepada generasi muda yang tumbuh di era modern.

“Dulu masyarakat menggunakan obor karena belum ada listrik. Mereka membawa obor ketika pergi ke masjid atau surau. Nilai sejarah inilah yang ingin kita hidupkan kembali sebagai bagian dari tradisi dan syiar Islam,” jelasnya.

Di sepanjang rute pawai, ribuan warga terlihat begitu menikmati suasana. Banyak keluarga datang bersama anak-anak mereka untuk menyaksikan langsung kemeriahan malam Muharam. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam karena pemandangan lautan cahaya obor menjadi pengalaman yang jarang ditemui.

Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar menunjukkan bahwa tradisi pawai obor masih memiliki tempat istimewa di hati warga Siak. Selain menjadi hiburan yang sarat nilai religius, kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempererat hubungan sosial antarwarga.

Sementara itu, Ketua DPD BKPRMI Kabupaten Siak, , mengatakan bahwa pawai obor tahun ini melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan yang berada di Kecamatan Siak, Mempura, dan Bungaraya.

Ia menjelaskan bahwa peserta tingkat SD dan MI berasal dari 10 sekolah, tingkat SMP dan MTs sekitar delapan sekolah, sedangkan tingkat SMA, SMK, dan MA diikuti tiga sekolah.

“Secara keseluruhan peserta pawai obor berjumlah kurang lebih 1.200 orang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperingati dan menyambut Tahun Baru Islam sekaligus meningkatkan ukhuwah Islamiyah di Kabupaten Siak,” ujarnya.

Selain pawai obor, panitia juga menggelar perlombaan yang menilai kreativitas, kekompakan, dan semangat peserta. Untuk kategori SD/MI, juara pertama berhasil diraih SDN 3 Kampung Dalam Siak. Pada kategori SMP/MTs, juara pertama diraih SMP Negeri 1 Siak. Sedangkan kategori SMA/SMK/MA dimenangkan oleh SMA Islamic.

Rangkaian kegiatan malam Tahun Baru Islam tersebut kemudian dilanjutkan dengan Tablig Akbar yang dipimpin Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, . Acara juga menghadirkan tausiah agama yang disampaikan oleh , dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama.

Dalam tausiahnya, jamaah diajak menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai waktu untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik, tetapi juga perubahan sikap, akhlak, dan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Malam itu, cahaya ribuan obor yang menerangi Kota Pusaka seolah menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Siak. Harapan agar nilai-nilai keislaman, tradisi budaya, dan semangat kebersamaan terus hidup dari generasi ke generasi. Di tengah derasnya arus modernisasi, pawai obor menjadi pengingat bahwa identitas religius dan budaya adalah warisan berharga yang harus terus dijaga dan dilestarikan.(*02/cinta)